Pengetahuan, Teknologi, Manusia
kembali ke daftar isiPada 2025, kerja sama antara Rosatom dan Indonesia naik ke tingkat baru. Delegasi Rusia dan Indonesia secara aktif berpartisipasi dalam agenda bisnis utama di kedua negara. Inisiatif sosial-budaya juga berkembang, mulai dari keterlibatan perwakilan Indonesia dalam ekspedisi edukatif “Pemecah Es Pengetahuan” hingga penyelenggaraan pertemuan komunitas perempuan profesional di Jakarta. Berikut rangkuman peristiwa paling penting sepanjang tahun lalu.
Arah utama dialog para ahli pada 2025 adalah pembahasan solusi energi nuklir berdaya besar maupun berdaya kecil, termasuk reaktor modular kecil (SMR), untuk Indonesia. Dalam berbagai ajang industri kunci di Tanah Air, Rosatom mempresentasikan teknologinya di bidang ini. Pada akhir November, Rosatom turut ambil bagian dalam pameran energi terbesar di Asia Tenggara, Electricity Connect 2025, yang digelar di Jakarta. Stan Rosatom yang menampilkan solusi nuklir terkini untuk kawasan Asia Tenggara dikunjungi para tokoh penting dari kalangan bisnis dan pemerintahan Indonesia, di antaranya Direktur Utama perusahaan energi PT PLN Darmawan Prasodjo, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Dadan Kusdiana, serta tamu-tamu lainnya.
“Permintaan listrik yang terus meningkat di berbagai wilayah Indonesia dapat dipenuhi secara efektif oleh PLTN berdaya besar maupun berdaya kecil, termasuk unit pembangkit terapung. Rosatom memiliki pengalaman unik dan teknologi rujukan yang dibutuhkan untuk menghadirkan solusi komprehensif bagi Indonesia, sehingga pengembangan energi nuklir dapat berjalan selaras dengan kebutuhan ekonomi yang terus tumbuh,” ujar Wakil Kepala Divisi Permesinan Rosatom, Vladimir Aptekarev, saat berbicara dalam salah satu sesi.
Pada September, Rosatom berpartisipasi dalam seminar internasional tentang energi nuklir yang diselenggarakan oleh PT PLN. Kepala kantor perwakilan Rosatom di Indonesia, Anna Belokoneva, menekankan bahwa bagi Indonesia, negara dengan lebih dari 17 ribu pulau, solusi yang optimal dapat berupa unit pembangkit listrik terapung untuk memasok listrik ke wilayah-wilayah terpencil, serta PLTN darat berdaya besar maupun berdaya kecil.
Pada Juni, dalam rangkaian Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF), berlangsung dialog bisnis “Rusia–Indonesia” yang dihadiri oleh perwakilan dunia usaha dari kedua negara. Wakil Direktur Jenderal Rosatom untuk bidang permesinan dan solusi industri, Andrey Nikipelov, dalam paparannya menjelaskan keunggulan energi nuklir secara umum dan SMR secara khusus. “Energi nuklir adalah solusi di mana kita tidak perlu memilih antara daya yang stabil dan kepedulian lingkungan. Pembangkit nuklir berdaya besar maupun berdaya kecil, yang dalam pembangunan dan pengoperasiannya Rosatom telah mengumpulkan pengalaman unik, mampu menyediakan pasokan energi hijau yang andal bagi masyarakat dan industri Indonesia,” kata Andrey Nikipelov.

Hasil praktis terpenting tahun ini adalah penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pelaksanaan studi pra-kelayakan pembangunan PLTN di Indonesia berbasis teknologi nuklir Rusia, antara perusahaan Rosatom Energy Projects dan PLN Nusantara Power. Penandatanganan berlangsung pada September, dalam forum internasional Pekan Atom Dunia. Nota kesepahaman tersebut menetapkan langkah lanjutan untuk membangun kerja sama Rusia–Indonesia dalam mengevaluasi opsi penerapan energi nuklir di bauran energi Indonesia.
Dari Jakarta hingga Kutub Utara
Seiring dengan aktivitas bisnis, Rosatom dan Indonesia juga memperkuat ikatan sosial-budaya. Pada musim gugur ini di Jakarta, digelar dialog terbuka yang membahas peran perempuan dalam industri nuklir. Acara tersebut mempertemukan peserta dari 20 negara, mulai dari perwakilan industri nuklir, sektor teknologi, hingga organisasi medis, pendidikan, dan ilmiah.
“Dialog hari ini menjadi jembatan yang menghubungkan institusi, berbagai sektor, dan yang terpenting, manusia: para perempuan, ilmuwan, insinyur, inovator, serta pembuat kebijakan yang percaya bahwa teknologi harus mengabdi pada kemanusiaan. Kerja sama kita mencerminkan semakin besarnya peran perempuan dalam membentuk masa depan industri berteknologi tinggi, dari energi nuklir hingga teknologi digital,” ujar salah satu koordinator forum, Kepala Divisi Pengembangan Perempuan pada Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia, Geni Rina Sunaryo.
Salah satu hasil paling membanggakan tahun ini adalah raihan posisi kedua yang layak diterima oleh tim Indonesia pada final hackathon mahasiswa internasional Global HackAtom yang diselenggarakan Rosatom. Babak nasional hackathon berlangsung pada Juli di Jakarta, di Politeknik Teknologi Nuklir, di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam sesi tatap muka, kompetisi diikuti oleh 15 tim dari sembilan universitas. Tim pemenang, Tahu Sumedang dari Universitas Padjadjaran, datang ke Moskow pada September untuk mengikuti final Global HackAtom. Tema final tahun ini adalah eksplorasi antariksa dengan dukungan teknologi nuklir. Tim Indonesia mengusulkan konsep pemanfaatan teknologi nuklir untuk menjaga ritme sirkadian selama penerbangan antariksa jarak jauh. Juri menilai tinggi gagasan tersebut dan menempatkan tim Indonesia di peringkat kedua.
Peringkat kedua lainnya diraih bukan oleh mahasiswa, melainkan oleh para nelayan, dalam turnamen memancing internasional yang diselenggarakan Rosatom. Kompetisi berlangsung di Turki, dekat lokasi pembangunan PLTN Akkuyu. Turnamen ini diikuti 14 olahragawan amatir dari tujuh negara. Nelayan Indonesia dari Kendari (Sulawesi Tenggara), Aiptu Hamzah Basri dan Mulyadi Umar, berhasil menangkap 6,5 kg ikan dan membawa pulang medali perak. Dalam rangkaian kegiatan turnamen, para nelayan juga berkesempatan mengunjungi lokasi PLTN yang sedang dibangun, berinteraksi dengan warga setempat, dan melihat langsung bahwa teknologi nuklir dapat diterapkan dengan aman.
Sementara itu, bagi anak SMA bernama Priya Wicaksono dan Profesor Topan Setiadipura dari Indonesia, pengalaman yang benar-benar tak terlupakan adalah keikutsertaan mereka dalam ekspedisi Arktik internasional “Pemecah Es Pengetahuan 2025” (“Icebreaker of Knowledge 2025”) yang diselenggarakan Rosatom. Pada Agustus 2025, dengan kapal pemecah es nuklir “50 Let Pobedy” (“50 Tahun Kemenangan”), mereka berlayar menuju Kutub Utara. Di atas kapal terdapat 66 pelajar dari 21 negara, serta para pakar, ilmuwan terkemuka, dan pemopuler ilmu pengetahuan dari berbagai bidang. “Pengalaman ini sungguh memperkuat keyakinan saya bahwa peradaban manusia membutuhkan energi nuklir,” ungkap Topan Setiadipura.

