Kekuatan Listrik
Berlangganan buletin
Berlangganan
#299Maret 2026

Kekuatan Listrik

kembali ke daftar isi

Pada Februari 2026, Badan Energi Internasional (IEA) menerbitkan laporan “Listrik 2026. Analisis dan Prakiraan hingga 2030” (Electricity 2026. Analysis and Forecast to 2030). Menurut proyeksi para ahli, permintaan listrik akan tumbuh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Pembangkit listrik tenaga nuklir termasuk di antara sumber listrik rendah karbon yang akan membantu memenuhi permintaan tersebut.

Pada periode 2026–2030, permintaan listrik diperkirakan akan meningkat dengan laju rata-rata tahunan sebesar 3,6%, menurut para ahli IEA. Angka ini sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan rata-rata selama sepuluh tahun sebelumnya. Tren ini mulai terlihat setidaknya dua tahun lalu. Misalnya, pada tahun 2024 konsumsi listrik global meningkat rata-rata sebesar 4,4% akibat meningkatnya kebutuhan pendingin udara selama gelombang panas serta meningkatnya permintaan dari sektor industri. Pada tahun 2025 pertumbuhan global permintaan listrik mencapai 3%.

Tren kedua yang diamati para ahli IEA sejak 2024 adalah bahwa pertumbuhan permintaan listrik melampaui pertumbuhan ekonomi. Sebelumnya kedua indikator ini biasanya berkorelasi. Selain itu, hingga tahun 2030 permintaan listrik diperkirakan akan tumbuh setidaknya 2,5 kali lebih cepat dibandingkan permintaan terhadap jenis energi lainnya.

Tren penting ketiga yang dicatat dalam laporan tersebut adalah kembalinya pertumbuhan permintaan listrik dari negara-negara maju. “Pada tahun 2025, perekonomian maju menyumbang hampir 20% dari pertumbuhan permintaan listrik global, sementara pada tahun 2024 hanya 17%. Kami memperkirakan bahwa selama periode proyeksi porsi ini rata-rata akan tetap sekitar 20% berkat perluasan produksi industri dan pertumbuhan lebih lanjut jumlah pusat data, kendaraan listrik, serta konsumen listrik akhir lainnya,” demikian disebutkan dalam laporan. Di Amerika Serikat, misalnya, konsumsi listrik diperkirakan akan meningkat rata-rata hampir 2% per tahun dalam lima tahun ke depan. Sekitar setengah dari pertumbuhan tersebut akan berasal dari pusat data baru. Tingkat pertumbuhan yang serupa diperkirakan terjadi di Uni Eropa. Namun dalam banyak hal ini bukan semata pertumbuhan, melainkan pemulihan: “Konsumsi diperkirakan baru akan kembali ke tingkat tahun 2021 paling cepat pada 2028,” kata laporan tersebut. Di Australia, Kanada, Jepang, dan Korea juga diperkirakan terjadi percepatan pertumbuhan permintaan listrik hingga 2030 dibandingkan dekade-dekade sebelumnya.

Namun demikian, pendorong utama pertumbuhan permintaan tetap berasal dari negara-negara berkembang. Tiongkok, misalnya, pada periode 2026–2030 diperkirakan akan meningkatkan konsumsi listrik sebesar volume yang sebanding dengan total permintaan listrik Uni Eropa saat ini. Pertumbuhan rata-rata tahunan permintaan listrik di Tiongkok diperkirakan mencapai 4,9%. “Tingkat ini mendekati angka tahun 2025 (5%), tetapi lebih rendah dibandingkan rata-rata 6,5% selama satu dekade terakhir,” demikian disebutkan dalam laporan. Pertumbuhan juga diperkirakan terjadi di India serta negara-negara Asia Tenggara. Penyebab utamanya adalah perkembangan ekonomi dan penggunaan pendingin udara yang semakin intensif.

Pada periode 2026–2030, menurut proyeksi IEA, permintaan listrik global akan tumbuh dengan laju rata-rata tahunan sebesar 3,6%

Tren penting keempat adalah meningkatnya kesadaran akan kebutuhan mendesak untuk mengembangkan jaringan listrik. Saat ini investasi di sektor ini lebih rendah dibandingkan investasi dalam pembangkitan listrik, dan kurang berkembangnya infrastruktur jaringan menjadi masalah. Untuk mengatasi pertumbuhan permintaan listrik, investasi tahunan dalam jaringan listrik perlu ditingkatkan sekitar 50% dari tingkat saat ini sebesar 400 miliar dolar AS. Selain itu diperlukan perluasan signifikan rantai pasok yang berkaitan dengan jaringan listrik. Peningkatan ketersediaan kapasitas pembangkitan sebesar 450 hingga 700 GW dapat dicapai melalui penerapan teknologi yang meningkatkan efisiensi sistem tenaga. Dalam laporan tersebut disebutkan antara lain teknologi peringkat saluran dinamis (dynamic line rating), kontrol aliran daya tingkat lanjut (advanced power-flow control), serta penggantian konduktor pada jaringan transmisi guna meningkatkan kapasitas penyaluran dan menaikkan tingkat tegangan. “Isu pengembangan jaringan dan fleksibilitas sistem tenaga semakin sering masuk ke dalam agenda kebijakan, sehingga pemanfaatan yang lebih efisien dari sistem yang sudah ada dapat membantu mengurangi kemacetan jaringan dan mempercepat integrasi kapasitas baru di tengah upaya berkelanjutan untuk memperluas jaringan,” demikian disebutkan dalam laporan.

Cara lain untuk meningkatkan kinerja sistem tenaga adalah penerapan baterai skala besar. Kebutuhan terhadap teknologi ini khususnya tinggi pada sistem yang memiliki porsi besar pembangkitan listrik dari sumber energi terbarukan, seperti di Jerman, California, Australia Selatan, Texas, dan Britania Raya. Di wilayah-wilayah tersebut kapasitas baterai yang dipasang telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Atom dalam Pertumbuhan

“Diperkirakan bahwa pada tahun 2030 setengah dari seluruh listrik di dunia akan dihasilkan dari sumber energi terbarukan dan tenaga nuklir,” demikian disebutkan dalam laporan tersebut. Produksi listrik di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) juga akan terus meningkat. Pada tahun 2025 produksi listrik di PLTN Prancis meningkat, sementara di Jepang beberapa unit pembangkit kembali dioperasikan. Selain itu, unit-unit baru juga mulai beroperasi, termasuk Unit No. 1 PLTN Kursk-2 di Rusia yang tersambung ke jaringan listrik pada 31 Desember 2025. “Energi nuklir kembali memperoleh arti strategis di banyak negara maju, didukung oleh langkah-langkah legislasi yang bertujuan memperpanjang masa operasi reaktor serta membangun kapasitas baru,” demikian disebutkan dalam laporan.

Diperkirakan bahwa pada tahun 2030 setengah dari seluruh listrik di dunia akan dihasilkan dari sumber energi terbarukan dan tenaga nuklir

Rosatom berkontribusi pada pengembangan energi nuklir di seluruh dunia. Dalam portofolio internasional korporasi negara Rusia ini terdapat 41 proyek di 11 negara. Selain itu Rosatom juga melaksanakan proyek di dalam negeri: saat ini 20 unit pembangkit listrik berkapasitas besar dan kecil sedang dalam tahap implementasi di wilayah Rusia.

Menurut perkiraan para ahli IEA, produksi listrik dari pembangkit berbasis sumber energi terbarukan dalam lima tahun ke depan akan meningkat rata-rata sekitar 8% per tahun. Kontribusi terbesar terhadap pertambahan produksi tahunan, lebih dari 600 TWh, akan berasal dari pembangkit listrik tenaga surya.

Dinamika produksi listrik dari pembangkit berbahan bakar batu bara berbeda-beda di tiap negara. Di India dan Tiongkok, misalnya, pembangkitan listrik dari batu bara menurun akibat melambatnya pertumbuhan permintaan listrik dan pesatnya perkembangan pembangkitan berbasis energi terbarukan. Di Amerika Serikat, sebaliknya, pada tahun 2025 konsumsi batu bara meningkat karena kenaikan harga gas alam serta penghentian operasi pembangkit listrik tenaga batu bara yang berjalan lebih lambat dari rencana awal. Akibatnya sektor ketenagalistrikan meningkatkan konsumsi batu bara. Di Uni Eropa, produksi listrik yang memecahkan rekor dari pembangkit surya disertai penurunan pembangkitan dari pembangkit listrik tenaga air dan angin, sehingga konsumsi batu bara hanya sedikit menurun.

Dalam lima tahun ke depan, menurut para ahli IEA, produksi listrik dari pembangkit batu bara di Tiongkok akan menurun. Penurunan pembangkitan dari batu bara juga diperkirakan terjadi di Eropa serta di Amerika Utara dan Selatan. Sebaliknya, di India dan Asia Tenggara indikator ini justru akan meningkat.

Produksi listrik di pembangkit berbahan bakar gas diperkirakan akan meningkat secara global dengan laju rata-rata sekitar 2,6% per tahun hingga 2030. Sebagai perbandingan, dalam lima tahun sebelumnya laju pertumbuhan rata-rata tahunan hanya sekitar 1,4%. Para analis IEA mengaitkan peningkatan permintaan pembangkitan listrik berbasis gas dengan kenaikan umum permintaan listrik di Amerika Serikat serta dengan peralihan dari minyak ke gas di Timur Tengah.

“Diperkirakan bahwa pada periode 2026–2030 sumber energi terbarukan, gas alam, dan tenaga nuklir secara bersama-sama akan menutup seluruh tambahan permintaan listrik global,” simpul para penulis laporan tersebut.

Di Rusia

Para penulis laporan mencatat adanya kesulitan memperoleh data tentang Rusia untuk tahun 2025. Berikut kami lengkapi kekosongan tersebut. Menurut data Badan Statistik Rusia (Rosstat), produksi listrik di Rusia pada tahun 2025 mencapai 1.194 miliar kWh. Angka ini 1,5% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Impor listrik mencapai 2,3 miliar kWh, sementara ekspor mencapai 7,44 miliar kWh. Produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir pada tahun 2025 mencapai 219 miliar kWh, atau 1,3% lebih tinggi dibandingkan tahun 2024.

Pada Januari 2026, menurut Rosstat, sistem tenaga Rusia kembali menunjukkan pertumbuhan. Produksi listrik pada bulan tersebut mencapai 119 miliar kWh, yaitu 4,4% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan 2,9% lebih tinggi dibandingkan Desember 2025. Produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir pada periode yang sama mencapai 20,6 miliar kWh, yaitu 9,4% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan 4% lebih tinggi dibandingkan Desember 2025.

Dalam portofolio internasional Rosatom terdapat 41 proyek di 11 negara

Pada Januari 2026 Menteri Energi Rusia Sergei Tsivilev mengadakan rapat kerja, di mana salah satu topik utama adalah pelaksanaan program pengembangan sektor ketenagalistrikan di negara tersebut dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan permintaan serta kebutuhan pengembangan infrastruktur energi secara lebih cepat dari pertumbuhan permintaan. “Dalam waktu dekat kami akan meninjau kembali seluruh program dan strategi kami serta melakukan penyesuaian yang diperlukan,” kata Sergei Tsivilev, termasuk terkait isu penyediaan energi bagi pusat data.

Dengan demikian, Rusia bergerak sejalan dengan tren utama global di sektor ketenagalistrikan: peningkatan konsumsi listrik, termasuk akibat bertambahnya jumlah pusat data, serta pertumbuhan pembangkitan listrik tenaga nuklir.