Global HackAtom 2025: Bagaimana Acaranya Berlangsung
kembali ke daftar isiJuara kedua dalam final kejuaraan internasional Global HackAtom yang digelar pada 2025 berhasil diraih oleh mahasiswa Indonesia. Dalam waktu 24 jam, mereka mengusulkan solusi yang tidak terduga untuk mendukung kesehatan angkasawan dengan bantuan teknologi nuklir. Tim beranggotakan lima orang dengan nama unik Tahu Sumedang bercerita dalam wawancara eksklusif tentang bagaimana final berlangsung dan peluang apa yang terbuka bagi mereka berkat kemenangan ini.
Apa arti nama tim Anda?
Frederick Suhamdy: Dalam bahasa Indonesia, “Tahu Sumedang” berarti tahu goreng. Ini adalah camilan populer yang dijual oleh pedagang kaki lima, terutama di daerah tempat kampus kami berada, yaitu Sumedang. Kami berpikir nama ini akan mudah diingat dan terdengar lucu. Kami ingin memperkenalkan tanah air kami, Indonesia, dan kekayaan budaya kulinernya.
Bagaimana tim Anda terbentuk?
Fathi Ghifari: Kami semua berasal dari satu institusi pendidikan yang sama, yaitu Universitas Padjadjaran. Tentu saja, mencari ide proyek tanpa berdebat itu seperti menonton film tanpa tokoh utama. Masing-masing dari kami berlima mencari ide terbaik, lalu kami mendiskusikannya untuk mengambil keputusan.
Sebelum final di Moskow, ada tahap nasional. Apakah sulit menghadapi persaingan?
Marsha Aziza Wardhana: Saya tidak ingat persis berapa banyak tim yang mengikuti tahap nasional HackAtom, tetapi saya sangat ingat reaksi kami ketika pertama kali melihat daftar finalis: “Tidak, sepertinya kita harus melupakan kemenangan.” Kami semua adalah mahasiswa sarjana tahun kedua dan ketiga, dan kami harus berhadapan langsung dengan mahasiswa pascasarjana serta mahasiswa tingkat akhir. Itu benar-benar kompetisi yang sulit.
Selama final, bahasa apa yang Anda gunakan untuk berkomunikasi? Apakah ada kesulitan dalam menerjemahkan istilah teknis?
Richard Kurniawan: Di dalam tim, tentu saja kami berkomunikasi dalam bahasa induk kami, bahasa Indonesia. Dengan peserta Global HackAtom lainnya dan dewan juri, kami menggunakan bahasa Inggris. Untungnya, kami tidak mengalami masalah dalam menerjemahkan istilah teknis, karena di bidang studi kami, kami sebagian besar menggunakan bahasa Inggris.
Proyek Anda adalah salah satu yang paling berpusat pada manusia: Anda mengusulkan konsep penerapan teknologi nuklir untuk menjaga ritme biologis dalam penerbangan luar angkasa. Bisa diceritakan lebih lanjut?
Marsha Aziza Wardhana: Semuanya bermula dari seminar angkasawan uji Rusia Anton Shkaplerov. Ia bercerita bahwa angkasawan rentan mengalami depresi dan perasaan terisolasi. Karena itu, awalnya kami ingin menciptakan sesuatu untuk meningkatkan kesehatan mental angkasawan. Kemudian, mentor kami mengatakan bahwa berbagai masalah yang dialami angkasawan, seperti risiko kardiovaskular, gangguan imunitas, atau bahkan ketidakstabilan suasana hati, dapat memiliki patomekanisme yang sama, yaitu ketidaksinkronan ritme sirkadian atau jam biologis. Dari situlah lahir ide proyek kami.

Dewan juri terdiri dari perwakilan Rosatom dan universitas teknik. Pertanyaan ahli mana yang paling sulit bagi Anda, dan mana yang Anda sukai?
Marsha Aziza Wardhana: Yang paling sulit adalah pertanyaan tentang perencanaan keuangan dan rencana ke depan. Tidak satu pun dari kami memiliki dasar yang kuat dalam ekonomi atau manajemen, jadi angka-angka agak sulit bagi kami. Tetapi saya sangat menyukai pertanyaan tentang proyek kami: isotop apa yang akan kami gunakan, bagaimana mekanisme kerjanya, dan apa perbedaan solusi kami dengan pendekatan yang saat ini digunakan di ISS untuk mengatur ritme sirkadian angkasawan.
Final ini mempertemukan lebih dari 50 peserta dari 10 negara. Apakah Anda merasakan semangat persaudaraan ilmiah internasional?
Frederick Suhamdy: Ketika saya bertemu tim dari negara lain, saya merasa gugup. Itu adalah pengalaman pertama saya berkomunikasi dengan mahasiswa asing. Saya sangat penasaran untuk mengenal budaya dan proyek mereka.
Krisi Nohan: Kompetisinya berlangsung sengit, tetapi pada saat yang sama kami sempat menjalin pertemanan. Berkat kegiatan yang diselenggarakan oleh Rosatom, kami menjadi lebih dekat dengan perwakilan dari berbagai negara. Secara pribadi, saya berteman dengan tim dari Kazakhstan, dan kami masih berkomunikasi sampai sekarang.
Ketika hasil diumumkan dan Anda menyadari bahwa tim Anda termasuk pemenang, apa yang Anda rasakan?
Fathi Ghifari: Luar biasa. Tidak bisa dipercaya. Rasanya seperti mimpi!
Jika Anda harus menggambarkan Global HackAtom dalam tiga kata, kata apa yang akan Anda pilih?
Fathi Ghifari: Berkesan, memukau, menginspirasi.
Topik final adalah eksplorasi ruang angkasa dengan menggunakan teknologi nuklir. Menurut Anda, seperti apa hal itu dalam masa depan yang dapat kita bayangkan?
Frederick Suhamdy: Saya optimistis. Saya pikir integrasi teknologi nuklir ke dalam wahana antariksa akan terjadi dalam 50 tahun mendatang, karena nuklir adalah salah satu pilihan terbaik dari segi efisiensi dan dampaknya terhadap lingkungan. Sebagai calon dokter, saya berharap dapat berkontribusi pada pengembangan bidang antariksa dengan memastikan kesehatan dan keselamatan angkasawan.
Apa arti kemenangan di Global HackAtom bagi Anda dalam konteks masa depan Anda?
Fathi Ghifari: Banyak anggota tim kami tertarik untuk berkembang di bidang nuklir. Kami berharap di masa depan dapat berkontribusi pada pengembangan kedokteran nuklir di Indonesia.
Marsha Aziza Wardhana: Kemenangan di HackAtom 2025 membuat saya dapat dengan percaya diri mempertimbangkan kedokteran nuklir dan kedokteran kedirgantaraan sebagai kemungkinan bidang spesialisasi di masa depan. Salah satu anggota tim kami, Frederick Suhamdy, bahkan mulai mempertimbangkan praktik kedokteran di Rusia.

